Hai..
Aku tak tau harus memulainya darimana tapi, kamu berhasil membuatku mengalihkan segala perhatianku kepadamu..
Aku tak tau apa yang telah tertilik dari tatap mata itu, aku takut salah mengartikannya.
Aku telah terbiasa hidup sendiri tanpa asmara.
Mungkin aku pernah mencoba, tapi gagal.
Selalu gagal.
Aku tak tau apa yang tertilik dari tatap mata itu, aku takut salah mengartikannya.
Luka pasti membekas, sekecil apapun bentuknya dan apapun penyebabnya.
Tetap.
Namanya juga luka.
Suaramu berat.
Indah senyummu memikat. Dan
Tatap matamu tajam menusuk.
Mungkin ini sangat berlebihan.
Tapi, ya itu kenyataannya..
Sekali lagi, Aku tak tau apa yang tertilik dari tatap mata itu, aku takut salah mengartikannya.
Manusia memang egois, ingin segala hal menjadi miliknya.
Termasuk aku.
Aku sangat egois..
Tidak bisa memilih..
Setiap orang pasti memiliki komitmen dalam dirinya.
Sebuah prinsip yang sulit untuk di jebol pertahannannya oleh siapa pun, bahkan oleh diri orang itu sendiri.
Aku pun begitu..
Lama sudah ku junjung komitmen itu tapi aku sangat egois dan tak bisa memilih.
Komitmen ada karena sebuah hal.
Bukan, bukan sebuah.
Mungkin banyak hal.
Tidak bisa ku sebutkan satu persatu.
Layaknya kubus. Banyak sisi yang membangunnya.
Yang dapat membantunya untuk berdiri kokoh.
Begitu pula diriku. Banyak sisi yang harus ku kuikuti keinginannya dan banyak sisi pula yang harus ku batasi keinginannya.
Tapi untuk yang satu ini, aku tak tau dia berada di sisi mana.
Dilema yang terus membuntuti..
Mungkin kalian tau maksudku..
Gembok itu. Haruskah tetap terkunci sampai waktunya tiba untuk dibuka atau dibuka karena telah tiba waktunya.
Aku sangat egois dan tidak bisa memilih...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar