Hai..
Aku tak tau harus memulainya darimana tapi, kamu berhasil membuatku mengalihkan segala perhatianku kepadamu..
Aku tak tau apa yang telah tertilik dari tatap mata itu, aku takut salah mengartikannya.
Aku telah terbiasa hidup sendiri tanpa asmara.
Mungkin aku pernah mencoba, tapi gagal.
Selalu gagal.
Aku tak tau apa yang tertilik dari tatap mata itu, aku takut salah mengartikannya.
Luka pasti membekas, sekecil apapun bentuknya dan apapun penyebabnya.
Tetap.
Namanya juga luka.
Suaramu berat.
Indah senyummu memikat. Dan
Tatap matamu tajam menusuk.
Mungkin ini sangat berlebihan.
Tapi, ya itu kenyataannya..
Sekali lagi, Aku tak tau apa yang tertilik dari tatap mata itu, aku takut salah mengartikannya.
Manusia memang egois, ingin segala hal menjadi miliknya.
Termasuk aku.
Aku sangat egois..
Tidak bisa memilih..
Setiap orang pasti memiliki komitmen dalam dirinya.
Sebuah prinsip yang sulit untuk di jebol pertahannannya oleh siapa pun, bahkan oleh diri orang itu sendiri.
Aku pun begitu..
Lama sudah ku junjung komitmen itu tapi aku sangat egois dan tak bisa memilih.
Komitmen ada karena sebuah hal.
Bukan, bukan sebuah.
Mungkin banyak hal.
Tidak bisa ku sebutkan satu persatu.
Layaknya kubus. Banyak sisi yang membangunnya.
Yang dapat membantunya untuk berdiri kokoh.
Begitu pula diriku. Banyak sisi yang harus ku kuikuti keinginannya dan banyak sisi pula yang harus ku batasi keinginannya.
Tapi untuk yang satu ini, aku tak tau dia berada di sisi mana.
Dilema yang terus membuntuti..
Mungkin kalian tau maksudku..
Gembok itu. Haruskah tetap terkunci sampai waktunya tiba untuk dibuka atau dibuka karena telah tiba waktunya.
Aku sangat egois dan tidak bisa memilih...
Happy Birthday Queen
Belasan tahun lalu aku adalah seorang kecil yang tidak tau apa-apa. Tidak tau apa artinya bahagia karena kemenangan & sedih karena kekalahan. Yang aku tau hanyalah bermain sampai aku lelah & yang aku tau hanyalah menangis karena ingin mainan baru. Aku tidak tau rasanya bermain harvest moon. Aku tidak tau rasanya main tamagochi. Dahulu, yang aku tau hanyalah : orang tuaku mendidik dan membesarkanku untuk menjadi perempuan yang mandiri, mengerti keadaan orang tua & menjadi kakak yang baik untuk adikku. Aku merasa bangga. Kenapa ? . Karena, aku bisa lebih mandiri dibanding dengan adikku dan aku lebih berani dibanding adikku. Jangan salah, meskipun aku lebih mandiri dan lebih berani dibanding adikku tetapi adikku jauh lebih bijaksana dan lebih hemat dibanding aku.
Aku dan adikku dididik oleh kedua orang tua yang berdarah batak. Keras? Memang. Galak? Apalagi. Tetapi satu yang harus kalian ketahui, bahwa didikan seperti itulah yang membuat aku dan adikku menjadi sekarang ini.
Aku berasal dari keluarga berkecukupan. Cukuplah kalo untuk satu hari mah. Besok ya besok lagi dipikirin. Aku & adikku juga dididik untuk hidup prihatin. Prihatin maksudnya adalah memanfaatkan segala hal dengan baik. Kalo emang nggak perlu ngapain dbeli. Kalo emang masih bisa dipakai kenapa harus dibuang?. Begitulah contohnya. Itu terbukti sekarang, aku & adikku lebih memprioritaskan hal-hal yang memang dibutuhkan & lebih menghargai sebuah perjuangan.
Ibuku perempuan paling tangguh. Perempuan yang paling mengagumkan. Dan perempuan yang paling bijaksana yang pernah kutemui. Dia mengajarkanku segala hal. Dari yang paling kecil sampai yang paling besar. Dari cara memegang sendok dengan benar sampai mengambil sebuah keputusan. Pandanganku dahulu tentang ibuku memang hanya sekedar seorang ibu. Perempuan yang mengandung & membesarkanku. Hanya itu. Tapi sekarang, pandanganku tentangnya berubah. Dia yang mengandung & membesarkanku. Ya emang. Namun, dia sekarang adalah sahabatku, idolaku, pahlawanku, panutanku, partnerku, bossku dan cinta pertamaku.
Dia Segalanya bagiku.
Ya Segalanya. Lebih dari apapun.
Delapan belas tahun dari usiamu telah kau habiskan denganku. Hari ini 15 Mei 2015 usiamu bertambah & kekuatanmu berkurang perlahan. Tapi, ketangguhanmu takkan pernah hilang. Selamat Ulang Tahun. Selamat Bertambah umur 1 tahun boss. Cintamu kepadaku takkan pernah bisa terhalang apapun. Termasuk jarak dan waktu.
Langganan:
Komentar (Atom)